Dari Musibah Jadi Berkah, Kisah Bambang Pranoto Ciptakan Minyak Kutus-Kutus

Dari Musibah Jadi Berkah, Kisah Bambang Pranoto Ciptakan Minyak Kutus-Kutus

Servasius Bambang Pranoto tiba-tiba tidak bisa mengontrol kakinya usai sebuah kecelakaan yang membuatnya terperosok ketika melewati jalur tanah di Bali. Dari situ, cerita kesuksesannya dalam membesarkan minyak kutus-kutus dimulai.

Ditemui di presidential suite sebuah hotel di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Bambang menceritakan dia sempat membawa kakinya ke tukang pijat tapi tak kunjung sembuh. Ketika dibawa ke dokter, ia termasuk tidak mendapatkan solusinya dan malah diberikan daftar penyakit.

Ketika dilanda masalah itu, Bambang pun menentukan untuk menyendiri dan merenung. Kala menyepi itulah dia beroleh ilham untuk mengakibatkan sebuah minyak minyak kutus kutus buat kesehatan .

“Di situ merasa perenungan saya. Akhirnya, untuk bisa sembuh aku harus membuat minyak,” kata Bambang ketika ditemui Health Liputan6.com pada Rabu kemarin, ditulis Jumat (6/12/2019).

“Begitu aku bisa (bahan-bahannya), karena dalam perenungan itu kan tidak ada text book, aku cocokkan dengan hasil penelitian tumbuhan LIPI, itu semua yang ada di dalam otak aku sesungguhnya berfaedah semua,” kata pria yang tahun depan bakal 65 tahun ini.

Bermodalkan intuisi dan pengalaman dalam mempelajari pengobatan tradisional berasal dari alam ketika mengobati istrinya, dia pun menentukan mengakibatkan minyak kutus-kutus. Tak lama usai mengfungsikan ciptaannya sendiri, tak ada keluhan kembali pada kakinya.

Nama “kutus-kutus” sendiri bermakna “88” yang bentuknya tidak putus. Selain itu, dalam filosofi Tionghoa, meski dirinya bukan beretnis Cina, menurutnya angka ini adalah angka yang baik.

Awalnya, Bambang cuma membagikan minyak ciptaannya ke orang-orang di sekitarnya saja. Setelah dirasa manfaatnya, seorang kawan menyarankannya untuk menjual produk buatannya agen minyak kutus kutus bayi .

Bambang pun mengawali produksi minyak kutus-kutus berasal dari dapur rumahnya sendiri secara tradisional. Walau begitu, dia sempat mendapat teguran berasal dari beberapa lembaga yang mengkritik caranya dalam mengakibatkan produk selanjutnya yang dianggap tidak cocok dengan cara pembuatan obat yang baik.

“Empat tahun baru aku bisa (izin edar BPOM),” kata Bambang sambil tertawa.

Baru di tahun 2017, produknya baru beroleh izin edar berasal dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Waktu itu tidak dikasih-kasih karena kami tetap mengfungsikan alu. Masaknya di dapur. (Dibilang) ‘Mas jikalau membuat obat bukan di dapur’ (saya jawab) ‘Mbah aku jikalau membuat obat di dapur,'” selorohnya.

Namun, dia tidak menolak seumpama sejak 2011 sampai beroleh izin edar selanjutnya produknya dijual tanpa izin.

“Jadi bukan simpel saja, kami jual tanpa izin. Minta maaf, karena permintaan. Kalau itu berkenan disalahin ya tidak apa, yang perlu Indonesia merdeka. Hahahaha.”

Bisnis yang digelutinya pun jadi besar. Bambang pun merasa mengfungsikan mesin untuk tumbuk walau tidak sepenuhnya mengambil alih tenaga manusia.

Menurutnya, tak hanya karena mesin membutuhkan ongkos dan perawatan yang mahal, tenaga manusia memiliki alur yang kompleks. Contohnya, belanja makanana untuk pegawai itu bermakna dia termasuk untungkan petani.

“Saya mendambakan kutus-kutus ini membongkar segala paradigma pada yang tua, yang tradisional. Justru yang tradisional itu solusi terbaik.”

Minyak kutus-kutus yang ia ciptakan sempat menyebabkan kontroversi. Khususnya berasal dari para praktisi kesehatan. Namun, alumni SMA De Britto Yogyakarta itu tidak benar-benar ambil pusing soal pendapat orang lain.

“Dia nyerang karena tidak ada ilmiahnya serupa sekali,” kata papa berasal dari empat orang anak itu.

“Pernah ketemu Tuhan tidak? Tidak semua harus dijelaskan secara ilmiah. Kita menyadari efeknya, sejak kenal Tuhan hidup aku menjadi baik ya. Tidak menyadari munculnya bagaimana, penyebabnya bagaimana, ada problem (dijelaskan). Begitu pula kutus-kutus.”

Bambang menjelaskan bahwa konsep pemikiran yang benar-benar tergantung pada sesuatu yang ilmiah muncul karena waktu ini penduduk teah meninggalkan akar kebudayaan yang diberikan oleh nenek moyang.

Bambang mengungkapkan, kebudayaan timur membuktikan bahwa pengobatan sesungguhnya berasal berasal dari dalam diri kami sendiri. Khususnya pikiran.

“Jadi kutus-kutus tidak dibikin untuk mengobati tapi membangunkan kebolehan kami supaya kebolehan kami bisa mengobati diri kami sendiri,” kata Bambang.

Untuk bahan dalam minyak kutus-kutus, Bambang mengfungsikan konsep keharmonisan untuk penyembuhan. “Makanya kok sakit disuruh berdoa. Kan tidak masuk akal. Tapi karena berdoa itu harmonis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *